siang jakarta selatan.
aku kembali menaruh riwayat hidup.
di atas meja persetujuan.
antara penerimaan atau penolakan.
dari tempat berlabuh waktu.
mulai berbincang bibir dengan bibir.
sampai mata dibayar mata.
tertuju, perpaduan kata-kata.
entah esok penghabisan seperti apa?
serta selubung nasib memuncak waktu.
namun bagiku yang telah menyediakan api.
kepada laskar kehidupan dalam garis pergerakkan.
ku serahkan alamat kepada Tuhan.
karena pesanNya yang menyambung kehidupanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar