aku tak sengaja melewati tubuh usang.
merpati tua yang merayap senja.
di balik sinis sang raja matahari.
keringat meluncur dia usap juga.
tak perlu aku mendengar cerita.
tentang dia mengayuh di bumi keras.
pontang-panting mencari hamparan mulia.
yang tertuang saat dia memandang.
langit-langit adalah arah tuk menyembah baginya.
Tuhannya adalah Tuhanku juga!
dia berjuang menjadi ibu.
menetes dari suasana yang dia perjuangkan.
anak-anak yang bermain dengan bayang-bayang.
serta sosok tua terkapar di atas ketidakberdayaan, suaminya.
dia berjuang.
walau habis nanti pilihan-pilihan.
dia tetap nikmat menguyup samudera biru.
karena baginya, Tuhannya terus menyimak.
hingga kelak ia hanyut di pujian syukur yang terucap.
Sabtu, 28 Juli 2012
Jumat, 27 Juli 2012
mata di balik cahaya
aku lekas tampar wajahku di ujung lamunan.
detak berbunyi, melepaskan darah mengalir deras.
aku terpaku dalam titik keinginan mengingat.
tertuju pada sosokmu yang mengiringi alam berseri.
sebuah mata di balik cahaya, itu punyamu!
memang sinarmu tiada sirna.
dari apapun lirik kata yang berbincang melalui lidah.
indahnya langkahmu menepi di sajadah terbentang.
sungguh, dirimu bersayap bagai malaikat.
detak berbunyi, melepaskan darah mengalir deras.
aku terpaku dalam titik keinginan mengingat.
tertuju pada sosokmu yang mengiringi alam berseri.
sebuah mata di balik cahaya, itu punyamu!
memang sinarmu tiada sirna.
dari apapun lirik kata yang berbincang melalui lidah.
indahnya langkahmu menepi di sajadah terbentang.
sungguh, dirimu bersayap bagai malaikat.
desir-desir gelak tawa
desir-desir gelak tawa.
bayanganku kelak, yang berpijak pada garis harapan dan doa.
kepada alunanmu yang mengalir hebat.
bila nanti aku bertepi di bahagiamu.
bunyi lonceng ku pinang merdu.
saat nanti ribuan mata melihatku di bahagiamu.
dan aku mengayuh langkah kepadamu.
serinci pun hati menuliskan dengan pasti.
desir-desir gelak tawa.
aku bertepi di hamparan megah bayang-bayangmu.
dan kemudian ku hempaskan kau ke syair duniaku.
bayanganku kelak, yang berpijak pada garis harapan dan doa.
kepada alunanmu yang mengalir hebat.
bila nanti aku bertepi di bahagiamu.
bunyi lonceng ku pinang merdu.
saat nanti ribuan mata melihatku di bahagiamu.
dan aku mengayuh langkah kepadamu.
serinci pun hati menuliskan dengan pasti.
desir-desir gelak tawa.
aku bertepi di hamparan megah bayang-bayangmu.
dan kemudian ku hempaskan kau ke syair duniaku.
Selasa, 24 Juli 2012
pertemuan hati
di wajah malam kita saling memandang.
suatu perkenalan, memulai lewat perbincangan.
waktu bagi kita bukan halangan.
karena usia malam punya kita berdua.
kau tertawa melepaskan kata.
dan rumput layu mulai berdansa.
selepas suaramu merdu terdengar.
dan aliran darahku terhenti sejenak.
ketika tali seruan cinta bergeming.
dari desah hati melambai lembut.
tanpa pikiran aku bergegas.
ku seret kau ke pelukanku.
suatu perkenalan, memulai lewat perbincangan.
waktu bagi kita bukan halangan.
karena usia malam punya kita berdua.
kau tertawa melepaskan kata.
dan rumput layu mulai berdansa.
selepas suaramu merdu terdengar.
dan aliran darahku terhenti sejenak.
ketika tali seruan cinta bergeming.
dari desah hati melambai lembut.
tanpa pikiran aku bergegas.
ku seret kau ke pelukanku.
aku tergugur daun
belaian daun kering di puing kelam.
mengajak diri terbang jauh melampaui awan.
imajinasi tumbuh melayang hebat.
kemudian terpuruk sedap tubuh merentang.
hentakkan daun kering mengajak goyang.
semakin lama, semakin jauh di atas normal.
aku terangkat pada kebangkitan kelabu.
melurus jalan di lingkaran mematikan.
membawaku hadirkan gelak tawa menjulang.
yang esok pun aku tenggelam hilang.
daun kering merayu di puing kelam.
kepada seorang aku yang terbawa kesesatan.
mengajak diri terbang jauh melampaui awan.
imajinasi tumbuh melayang hebat.
kemudian terpuruk sedap tubuh merentang.
hentakkan daun kering mengajak goyang.
semakin lama, semakin jauh di atas normal.
aku terangkat pada kebangkitan kelabu.
melurus jalan di lingkaran mematikan.
membawaku hadirkan gelak tawa menjulang.
yang esok pun aku tenggelam hilang.
daun kering merayu di puing kelam.
kepada seorang aku yang terbawa kesesatan.
aku tak mau kehilangan
dekaplah aku di teguhnya rasa yang kau punya.
selamatkan aku di dinginnya malam yang membeku.
tak perlu kau hiraukan kata-kata mereka yang menghina.
kepadamu saat kau tuang cinta kepadaku.
peluklah aku.
sampai jauh ku terbang melayang tinggi.
bagai tanda ketulusan aku berserah.
di dekapan pelukmu yang erat.
aku tak mau kehilangan.
sentuhan hangat teguh cintamu.
sedetikpun aku tak pernah rela.
terhempaskan aku dari pelukmu.
aku tak mau kehilangan.
karena sungguh, aku tak mau!!
selamatkan aku di dinginnya malam yang membeku.
tak perlu kau hiraukan kata-kata mereka yang menghina.
kepadamu saat kau tuang cinta kepadaku.
peluklah aku.
sampai jauh ku terbang melayang tinggi.
bagai tanda ketulusan aku berserah.
di dekapan pelukmu yang erat.
aku tak mau kehilangan.
sentuhan hangat teguh cintamu.
sedetikpun aku tak pernah rela.
terhempaskan aku dari pelukmu.
aku tak mau kehilangan.
karena sungguh, aku tak mau!!
celah waktu
aku terbaring di depan langit yang menopang dagu.
ia menatapku, juga memasuki bahasa kalbuku.
kala ku tersesat di kaki masa lalu yang melaju.
sadari segalanya telah berjalan dan meninggalkan.
aku celahi pikiran yang tak berbentuk.
mencari serpihan makna yang bersembunyi.
di balik teganya diri menginjak jejak sang iblis.
di peradaban lalu yang menikam waktuku.
dan kini aku tak mau habis.
atau busuk, jelajahi hari yang sinis.
aku akan terus tegak mengejar mentari.
hingga ku terbangun dari sebuah mimpi.
ia menatapku, juga memasuki bahasa kalbuku.
kala ku tersesat di kaki masa lalu yang melaju.
sadari segalanya telah berjalan dan meninggalkan.
aku celahi pikiran yang tak berbentuk.
mencari serpihan makna yang bersembunyi.
di balik teganya diri menginjak jejak sang iblis.
di peradaban lalu yang menikam waktuku.
dan kini aku tak mau habis.
atau busuk, jelajahi hari yang sinis.
aku akan terus tegak mengejar mentari.
hingga ku terbangun dari sebuah mimpi.
suatu kepergian
hamparan senja yang terbentang.
dimahkotakan kepalaku oleh kumpulan awan.
aku memandang senyuman matahari yang padam.
ketika semua bersanding dengan dukaku yang kelam.
tetes air mata mengalir di mata hati.
selepas kepergian cinta yang berlari.
pada titik keikhlasan aku tuk melepaskan.
sosok tegar mencinta seperti malaikat putih.
kini pergi.
ia esok tak kembali.
suatu wujud yang tenggelam hilang.
hingga nanti nafas kan memudar.
dimahkotakan kepalaku oleh kumpulan awan.
aku memandang senyuman matahari yang padam.
ketika semua bersanding dengan dukaku yang kelam.
tetes air mata mengalir di mata hati.
selepas kepergian cinta yang berlari.
pada titik keikhlasan aku tuk melepaskan.
sosok tegar mencinta seperti malaikat putih.
kini pergi.
ia esok tak kembali.
suatu wujud yang tenggelam hilang.
hingga nanti nafas kan memudar.
padamu negeri
aku berbakti padamu negeri.
yang esok nanti peristiwa kan dihormati.
darah yang mengalir telah aku serahkan.
juga gejolak semangat telah aku sembahkan.
di kibaran alunan merah putih.
pusaka negeri, ketegakkan garuda bangsa.
aku tegak berkaki bagai prajurit.
memperjuangkan nasib berkulit putih.
walau esok nyawa dibayar air mata.
aku tetap tegar menghantam peluru.
karena esok dan seterusnya, aku lembaran yang kau kenang.
demi baktiku padamu negeri.
yang esok nanti peristiwa kan dihormati.
darah yang mengalir telah aku serahkan.
juga gejolak semangat telah aku sembahkan.
di kibaran alunan merah putih.
pusaka negeri, ketegakkan garuda bangsa.
aku tegak berkaki bagai prajurit.
memperjuangkan nasib berkulit putih.
walau esok nyawa dibayar air mata.
aku tetap tegar menghantam peluru.
karena esok dan seterusnya, aku lembaran yang kau kenang.
demi baktiku padamu negeri.
Jumat, 20 Juli 2012
akan selalu begitu
di merahnya kaki perjuangan.
akan ada kelahiran mata pengkhianat.
juga menjulur lidah penjilat.
yang menyerbu jiwa yang suci.
di putihnya hati perjuangan.
akan dihadapi ribuan kata-kata dusta.
yang berpijak pada kepalsuan.
di budaya picik para seniman kata.
bangsa yang gusar.
bangsa yang tersesat.
merintih hati yang mengepal keras.
menangis hebat.
demikianlah hal yang tak bisa terhapuskan.
akan ada kelahiran mata pengkhianat.
juga menjulur lidah penjilat.
yang menyerbu jiwa yang suci.
di putihnya hati perjuangan.
akan dihadapi ribuan kata-kata dusta.
yang berpijak pada kepalsuan.
di budaya picik para seniman kata.
bangsa yang gusar.
bangsa yang tersesat.
merintih hati yang mengepal keras.
menangis hebat.
demikianlah hal yang tak bisa terhapuskan.
cinta putih abu
bibirmu memeluk bibirku.
melingkar hangat bahagia.
di bawah pohon rindang yang damai.
masa putih abu.
kita di usia abu-abu.
bayang-bayang bait cinta.
yang dikenal belia dengan setianya.
kita sanjungkan satu rasa.
putihnya yang indah.
mewarnai hati sejajar tegak dengan pelangi.
kita yang bercinta dalam bahasa.
mengangungkan kita bersama.
di pangkuan masa putih abu.
melingkar hangat bahagia.
di bawah pohon rindang yang damai.
masa putih abu.
kita di usia abu-abu.
bayang-bayang bait cinta.
yang dikenal belia dengan setianya.
kita sanjungkan satu rasa.
putihnya yang indah.
mewarnai hati sejajar tegak dengan pelangi.
kita yang bercinta dalam bahasa.
mengangungkan kita bersama.
di pangkuan masa putih abu.
sarjana muda
sarjana.
kawanmu manis jendela dunia.
dari berbagai rangkaian cerita.
buku didirikan kau baca.
walau bosan kau simpan ilmu.
dalam setiap benakmu.
namun tak jua kau lukiskan.
kebodohan mengamuk jiwa.
karena kau percaya, hey sarjana!!
tiada pundak yang kokoh selain keajaibanmu.
kawanmu manis jendela dunia.
dari berbagai rangkaian cerita.
buku didirikan kau baca.
walau bosan kau simpan ilmu.
dalam setiap benakmu.
namun tak jua kau lukiskan.
kebodohan mengamuk jiwa.
karena kau percaya, hey sarjana!!
tiada pundak yang kokoh selain keajaibanmu.
putri
putri.
coba pangkas langit biru.
dari wajah langit berbaju kedamaian.
pun awan putih melembut kalbu.
juga, di antara bukit serpihan pelangi.
selepas hujan kemarin sore.
aku tunduk, patuh belaianmu.
mau sampai mati aku bersumpah.
namamu telah ku cinta.
coba pangkas langit biru.
dari wajah langit berbaju kedamaian.
pun awan putih melembut kalbu.
juga, di antara bukit serpihan pelangi.
selepas hujan kemarin sore.
aku tunduk, patuh belaianmu.
mau sampai mati aku bersumpah.
namamu telah ku cinta.
semua ini karenamu
dari sebaris kerah langitku.
kau sanjungkan megah alamku.
temani air hujan baris menyerbu.
persetujuan cintaku kini berlabuh.
aku mencintaimu karena itu kamu.
tidak sebagai bahasa menyembah angan-angan.
atau tidak juga seperti awan berpijak pada kepalsuan senja.
dan bagai danau yang enggan berlabuh pada samudera.
cinta ini karenamu.
hati ini karenamu.
asmara ini karenamu.
sungguh, semua karenamu.
kau sanjungkan megah alamku.
temani air hujan baris menyerbu.
persetujuan cintaku kini berlabuh.
aku mencintaimu karena itu kamu.
tidak sebagai bahasa menyembah angan-angan.
atau tidak juga seperti awan berpijak pada kepalsuan senja.
dan bagai danau yang enggan berlabuh pada samudera.
cinta ini karenamu.
hati ini karenamu.
asmara ini karenamu.
sungguh, semua karenamu.
Kamis, 19 Juli 2012
aku yang tersesat
petang kelam.
taring petir bernyanyi riang.
terdengar sampai selatan ujung.
lalu pucat wajah seisi bumi.
aku terkapar di balik rintik hujan.
yang telah sulit ku gapai utuh.
keyakinan rasa seluruh.
pergi, pergi saja kau hati.
jangan hadir seujung terang.
biarlah tangisan perih.
basahi terus lembah belati.
yang menikam puji hilir.
dan namaku mati.
hilang.
sirna.
hingga ku sadar raga melayang.
jauh pergi tinggalkan jiwa.
taring petir bernyanyi riang.
terdengar sampai selatan ujung.
lalu pucat wajah seisi bumi.
aku terkapar di balik rintik hujan.
yang telah sulit ku gapai utuh.
keyakinan rasa seluruh.
pergi, pergi saja kau hati.
jangan hadir seujung terang.
biarlah tangisan perih.
basahi terus lembah belati.
yang menikam puji hilir.
dan namaku mati.
hilang.
sirna.
hingga ku sadar raga melayang.
jauh pergi tinggalkan jiwa.
hujan tak hapuskan sesalku
rintik air mulai berbaris.
jatuh, ia berjatuhan jadi sekumpulan.
basahi jalan gersang tadi merentang.
kini sejuk mengundang damai.
aku yang terbaring bersama penat.
seolah bertanya esok bagaimana.
takdir yang ku bawa tegak.
berjumpa nasib terpuruk sedap.
ilmu ku tanam mati.
cerita melenyap sunyi.
di mana tegar ku cari?
walau sudah hujan hadir dalam damai.
namun ku terus pikirkan kelam.
jatuh, ia berjatuhan jadi sekumpulan.
basahi jalan gersang tadi merentang.
kini sejuk mengundang damai.
aku yang terbaring bersama penat.
seolah bertanya esok bagaimana.
takdir yang ku bawa tegak.
berjumpa nasib terpuruk sedap.
ilmu ku tanam mati.
cerita melenyap sunyi.
di mana tegar ku cari?
walau sudah hujan hadir dalam damai.
namun ku terus pikirkan kelam.
tentang diriku
aku sebagai garis lelaki.
nilai ku dapat pilu.
di kaki penghidupan semakin layu.
sadari sinar dunia kian bohong.
dusta mengalir di balik sinar-sinar terangnya.
tamparan hebat sosok mentari.
juga cemooh senja menajam kata.
aku bergegas tinggalkan rasa.
menyediakan api di dunia hitam putih.
apa lagi yang hebat selain itu?
nilai ku dapat pilu.
di kaki penghidupan semakin layu.
sadari sinar dunia kian bohong.
dusta mengalir di balik sinar-sinar terangnya.
tamparan hebat sosok mentari.
juga cemooh senja menajam kata.
aku bergegas tinggalkan rasa.
menyediakan api di dunia hitam putih.
apa lagi yang hebat selain itu?
tanyaku yang bergeming
puluhan waktu ku berganti baju.
aku tetap tegar seorang diri.
tanpa ada kata-kata manis.
dari sosok cinta penenang hati.
sampai kapan?
tanya bibirku selalu di langit malam.
juga tanya bibirku di langit pagi.
tak beri jawaban walau ku terus meminta.
aku di sini menanti.
aku di sini tak beranjak.
duhai perasaanku.
bujuklah aku pada perempuanku.
aku tetap tegar seorang diri.
tanpa ada kata-kata manis.
dari sosok cinta penenang hati.
sampai kapan?
tanya bibirku selalu di langit malam.
juga tanya bibirku di langit pagi.
tak beri jawaban walau ku terus meminta.
aku di sini menanti.
aku di sini tak beranjak.
duhai perasaanku.
bujuklah aku pada perempuanku.
ketika Dia memanggil
seruan adzan merayap ke tubuh bumi.
membangunkan mereka tuk mengabdi kepada Sang Illahi.
di fajar hari yang masih sepi.
yang hanya ditemani dingin mengusap diri.
kuasaNya yang memikat putih suci.
tak terlupakan dalam sujud sepenuh waktu.
karena Dia pelita bagi ribuan mata.
Maha Suci Allah.
sungguh Allah Maha Besar.
membangunkan mereka tuk mengabdi kepada Sang Illahi.
di fajar hari yang masih sepi.
yang hanya ditemani dingin mengusap diri.
kuasaNya yang memikat putih suci.
tak terlupakan dalam sujud sepenuh waktu.
karena Dia pelita bagi ribuan mata.
Maha Suci Allah.
sungguh Allah Maha Besar.
roda putar bumi
bayang-bayang bisu malam.
waktu pun mulai kelam.
bulan terhalang awan liar.
namun terjaga bagai pilar.
bumi berjelajah sehidup semati.
dari yang hidup sampai yang mati.
akan terus berganti.
sampai seruan menggaris nyawa kembali.
waktu pun mulai kelam.
bulan terhalang awan liar.
namun terjaga bagai pilar.
bumi berjelajah sehidup semati.
dari yang hidup sampai yang mati.
akan terus berganti.
sampai seruan menggaris nyawa kembali.
suasana malamku
maju hitam menyerbu.
atas langit gelap menentang.
api padam tersisa debu.
pundak bintang tegak menantang.
orang-orang sepi.
nyawa tiada sudah.
hilang.
lenyap.
hingga esok kan kembali.
atas langit gelap menentang.
api padam tersisa debu.
pundak bintang tegak menantang.
orang-orang sepi.
nyawa tiada sudah.
hilang.
lenyap.
hingga esok kan kembali.
duka si burung besi
ribuan mata tajam menatap haru.
kala sebuah burung besi menikam bukit.
hancur lebur dengan bayang-bayang.
ialah kumpulan di kematian.
tubuh bercerai dengan tulang-tulang.
berceceran di atas tanah bisu.
nyawa yang kemudian terbang ke langit-langit.
seketika mengucapkan selamat tinggal.
kami berduka dengan sejilid doa.
untuk mereka yang terpisah dari nyawa.
semoga kembali dan diterima.
oleh Sang Pemilik singgah sana semesta.
kala sebuah burung besi menikam bukit.
hancur lebur dengan bayang-bayang.
ialah kumpulan di kematian.
tubuh bercerai dengan tulang-tulang.
berceceran di atas tanah bisu.
nyawa yang kemudian terbang ke langit-langit.
seketika mengucapkan selamat tinggal.
kami berduka dengan sejilid doa.
untuk mereka yang terpisah dari nyawa.
semoga kembali dan diterima.
oleh Sang Pemilik singgah sana semesta.
gadis mudaku
gadis mudaku, ia Jessica.
desah angin meniupkan namanya.
kumpulan liarnya awan membentang wajahnya.
ditemani taburan bintang serupa aura kilau matanya.
gadis mudaku, ia Jessica.
bawaku dalam pelukan manis kata-katanya.
kala alam pun berbahasa membalut makna.
yang ia rangkai rindu di mawar dan melati.
gadis mudaku, ia Jessica.
dia datang buyarkan penatku.
lewat senyumnya kokoh bagai mentari hidup.
hingga ku berbahasa, aku ingin cinta kau apa adanya.
desah angin meniupkan namanya.
kumpulan liarnya awan membentang wajahnya.
ditemani taburan bintang serupa aura kilau matanya.
gadis mudaku, ia Jessica.
bawaku dalam pelukan manis kata-katanya.
kala alam pun berbahasa membalut makna.
yang ia rangkai rindu di mawar dan melati.
gadis mudaku, ia Jessica.
dia datang buyarkan penatku.
lewat senyumnya kokoh bagai mentari hidup.
hingga ku berbahasa, aku ingin cinta kau apa adanya.
perpisahan
betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.
antara bahasa sakit dan derita.
telah merasuki pita merah di lubuk hati.
kala hujan turun seolah aku penuh air mata.
aku bagaikan sungai dambakan samudera.
yang akan bermuara di birunya air laut.
dan sedikit meminta pembiasan cahaya.
tuk indahkan seorang aku dan dunia.
namun kini perpisahan terlahir sudah.
meniupkan langkahku tuk jauh berpisah.
dari hati yang ku tinggalkan.
adalah engkau yang ku cinta.
antara bahasa sakit dan derita.
telah merasuki pita merah di lubuk hati.
kala hujan turun seolah aku penuh air mata.
aku bagaikan sungai dambakan samudera.
yang akan bermuara di birunya air laut.
dan sedikit meminta pembiasan cahaya.
tuk indahkan seorang aku dan dunia.
namun kini perpisahan terlahir sudah.
meniupkan langkahku tuk jauh berpisah.
dari hati yang ku tinggalkan.
adalah engkau yang ku cinta.
dilemaku yang membelai
telah sepertiga menjelang pagi.
masih ku dengar rintik-rintik air.
yang turun dari hitamnya langit.
serta membawa sunyi setengah mati.
aku ingin terlelap dan terbaring.
namun tak kunjung juga lelah menjalar tubuh.
masih tetap membuka telanjang mata.
penyakit ini ku kenal sebagai insomnia.
ini sepi, tapi ku tak tertidur.
seolah pikiran menghantui.
bagai langkah bidak penuh tanya.
harus ke mana aku pergi?
masih ku dengar rintik-rintik air.
yang turun dari hitamnya langit.
serta membawa sunyi setengah mati.
aku ingin terlelap dan terbaring.
namun tak kunjung juga lelah menjalar tubuh.
masih tetap membuka telanjang mata.
penyakit ini ku kenal sebagai insomnia.
ini sepi, tapi ku tak tertidur.
seolah pikiran menghantui.
bagai langkah bidak penuh tanya.
harus ke mana aku pergi?
sosok yang memanggil
ku duduk di ambang pintu.
sambil memandang senja sore hari.
banyak lukisan dalam benak tentang cerita.
serta suara panggilan yang menggema.
namaku terdengar di telinga sebentar-sebentar.
ntah sosok siapa ia bersuara.
namun hangat menyentuh kalbu.
sambil memandang senja sore hari.
banyak lukisan dalam benak tentang cerita.
serta suara panggilan yang menggema.
namaku terdengar di telinga sebentar-sebentar.
ntah sosok siapa ia bersuara.
namun hangat menyentuh kalbu.
jeritan hati
aku kesal.
bagai malam tak berpura-pura.
dengan langitnya meraup kesal.
jejak-jejak tangisan purnama disiasati.
dari separuh emosi taburan bintang jatuh di atas.
siapa perduli?
iblis ku maki-maki.
terus mengusik kesadaranku.
sampai ku bertanya, adakah letak surga di bawah kaki bumi berpijak?
aku kesal.
muak-muakku bersetubuh dengan lidah.
siapa perduli?
hingga ku buang raut wajahku yang kelam ingatan.
bagai malam tak berpura-pura.
dengan langitnya meraup kesal.
jejak-jejak tangisan purnama disiasati.
dari separuh emosi taburan bintang jatuh di atas.
siapa perduli?
iblis ku maki-maki.
terus mengusik kesadaranku.
sampai ku bertanya, adakah letak surga di bawah kaki bumi berpijak?
aku kesal.
muak-muakku bersetubuh dengan lidah.
siapa perduli?
hingga ku buang raut wajahku yang kelam ingatan.
malam menangis
ku terbangun di malam redup.
dan di luar, masih terdengar rintik-rintik air baris menyerbu.
ini sepi mau ku bawa ke mana?
langit hitam berdiri di tubuh gelapnya.
sekecil terang tak menyapu arahnya.
pahatan bumi kelam merayap hebat.
hingga tak seorang merestui jejak-jejak waktu.
ah, sepi lagi!!
aku ingin jatuh di mimpi lagi.
sampai esok bertemu lagi.
dengan tubuh tak kerdil lagi.
di upacara perapian semangat pagi.
dan di luar, masih terdengar rintik-rintik air baris menyerbu.
ini sepi mau ku bawa ke mana?
langit hitam berdiri di tubuh gelapnya.
sekecil terang tak menyapu arahnya.
pahatan bumi kelam merayap hebat.
hingga tak seorang merestui jejak-jejak waktu.
ah, sepi lagi!!
aku ingin jatuh di mimpi lagi.
sampai esok bertemu lagi.
dengan tubuh tak kerdil lagi.
di upacara perapian semangat pagi.
suara kami
kami berunding penuh siasat.
sampai matahari tenggelam hilang.
persetujuan kesejahteraan.
kepada kami yang sedang berteriak.
atas nama bangsa dan merah putih.
kami tidak suka pada mereka yang bermain.
dengan api-api politik keji.
hingga meludahi suara kami.
Bung, kami bangsa yang berdaulat!!
berteriak merdeka sudah lama.
menyelimuti kami sejak tangisan bayi.
namun mengapa kami masih sesak nafas?
dalam roda yang kau genggam selangit.
kami hanya ingin berpijak dalam keadilan.
penuh rahmat dan sentosa.
dan salahkah kami menaruh harapan?
di pundakmu yang kokoh bagai prajurit?
dengar, dengarlah kami.
lihat, lihatlah kami.
kami hanya ingin melayang demi nama semua suara.
yaitu kesejahteraan!!
sampai matahari tenggelam hilang.
persetujuan kesejahteraan.
kepada kami yang sedang berteriak.
atas nama bangsa dan merah putih.
kami tidak suka pada mereka yang bermain.
dengan api-api politik keji.
hingga meludahi suara kami.
Bung, kami bangsa yang berdaulat!!
berteriak merdeka sudah lama.
menyelimuti kami sejak tangisan bayi.
namun mengapa kami masih sesak nafas?
dalam roda yang kau genggam selangit.
kami hanya ingin berpijak dalam keadilan.
penuh rahmat dan sentosa.
dan salahkah kami menaruh harapan?
di pundakmu yang kokoh bagai prajurit?
dengar, dengarlah kami.
lihat, lihatlah kami.
kami hanya ingin melayang demi nama semua suara.
yaitu kesejahteraan!!
syair untukmu
dari penaku yang tertulis untukmu.
agar sanggup melepas hasrat.
menaruh bibirmu di langit biru kata-katamu.
ciuman hangat di malam hidup.
meyakinkan bahwa batas waktu tak akan habis.
bila terus memikat hatimu.
dan jauh mimpi tak akan berlari.
antara berada di benderang abadi.
nan jauh di sana mata beningmu menatap haru.
kala kumpulan rindumu memanggilku.
agar sanggup melepas hasrat.
menaruh bibirmu di langit biru kata-katamu.
ciuman hangat di malam hidup.
meyakinkan bahwa batas waktu tak akan habis.
bila terus memikat hatimu.
dan jauh mimpi tak akan berlari.
antara berada di benderang abadi.
nan jauh di sana mata beningmu menatap haru.
kala kumpulan rindumu memanggilku.
aku dan duniaku
hari-hari untukku terasa malam.
kelam lurus melintang.
ada batasku ketidakmampuan.
ada jiwaku naik tinggi meredang.
apa nasib tak sempat menitip salam?
pada kemampuanku melihat esok terang?
ilmu terbuang percuma.
separuh waktu terlewat senyap.
duka mata beningku menatap pucat.
akan masih hitam yang terlihat jelas.
kelam lurus melintang.
ada batasku ketidakmampuan.
ada jiwaku naik tinggi meredang.
apa nasib tak sempat menitip salam?
pada kemampuanku melihat esok terang?
ilmu terbuang percuma.
separuh waktu terlewat senyap.
duka mata beningku menatap pucat.
akan masih hitam yang terlihat jelas.
pak tua berkaki dua
mata sayup menatap haru langit kelam.
akan hujan sebaris siang menjulang.
pak tua menolak mati diam.
terus terjang hari-hari mendesak.
bebek-bebek dibawa ke ladang luas.
akan ada rezeki bila gerak tak kenal rasa.
ilmuku berkelana sepanjang masa.
inilah pembedaanku kepada yang muda.
akan hujan sebaris siang menjulang.
pak tua menolak mati diam.
terus terjang hari-hari mendesak.
bebek-bebek dibawa ke ladang luas.
akan ada rezeki bila gerak tak kenal rasa.
ilmuku berkelana sepanjang masa.
inilah pembedaanku kepada yang muda.
suatu kehidupan
mata hidup di balik siang menjulang.
memandang nafas-nafas di sana sini.
tidak kah mereka lelah?
apa yang terus ditelusuri dan dicari?
walau punggung ramai mengayuh.
air mata mereka, tunduk saja selalu.
di bawah suara tua mengada-ada.
suatu kepalsuan kata-kata.
dunia semakin kiasan.
terkoyak kaki penghidupan yang sombong.
hingga sampai di akhir zaman penghabisan.
memandang nafas-nafas di sana sini.
tidak kah mereka lelah?
apa yang terus ditelusuri dan dicari?
walau punggung ramai mengayuh.
air mata mereka, tunduk saja selalu.
di bawah suara tua mengada-ada.
suatu kepalsuan kata-kata.
dunia semakin kiasan.
terkoyak kaki penghidupan yang sombong.
hingga sampai di akhir zaman penghabisan.
kediaman
jam memeluk dinding pucat.
atap lesu merayap retak-retak.
jendela murung di balik jaring laba-laba putih.
bangku menunduk diam membisu.
hingga pintu gugup menyapa diri.
inikah kediaman pengantar lelapku?
atap lesu merayap retak-retak.
jendela murung di balik jaring laba-laba putih.
bangku menunduk diam membisu.
hingga pintu gugup menyapa diri.
inikah kediaman pengantar lelapku?
syairku yang berbahasa
dalam sela-sela merah hati.
aku tak akan menulis.
tuk tegak dipuja bagai arjuna.
walau bidadari senyum memikat.
sampai perempuan berkedip manja.
hingga wanita terjang merayu.
pada batas garis pernyataan.
aku tetap mengambil nilai sebagai lelaki.
yang akan terus bersembunyi di balik syair.
aku tak akan menulis.
tuk tegak dipuja bagai arjuna.
walau bidadari senyum memikat.
sampai perempuan berkedip manja.
hingga wanita terjang merayu.
pada batas garis pernyataan.
aku tetap mengambil nilai sebagai lelaki.
yang akan terus bersembunyi di balik syair.
peruntungan nasib
siang jakarta selatan.
aku kembali menaruh riwayat hidup.
di atas meja persetujuan.
antara penerimaan atau penolakan.
dari tempat berlabuh waktu.
mulai berbincang bibir dengan bibir.
sampai mata dibayar mata.
tertuju, perpaduan kata-kata.
entah esok penghabisan seperti apa?
serta selubung nasib memuncak waktu.
namun bagiku yang telah menyediakan api.
kepada laskar kehidupan dalam garis pergerakkan.
ku serahkan alamat kepada Tuhan.
karena pesanNya yang menyambung kehidupanku.
aku kembali menaruh riwayat hidup.
di atas meja persetujuan.
antara penerimaan atau penolakan.
dari tempat berlabuh waktu.
mulai berbincang bibir dengan bibir.
sampai mata dibayar mata.
tertuju, perpaduan kata-kata.
entah esok penghabisan seperti apa?
serta selubung nasib memuncak waktu.
namun bagiku yang telah menyediakan api.
kepada laskar kehidupan dalam garis pergerakkan.
ku serahkan alamat kepada Tuhan.
karena pesanNya yang menyambung kehidupanku.
gadisku
kau cantik di impian lelaki.
bagiku yang menaruh pendapat kata.
mata yang kubayar dengan rasa.
harumkan namamu bergelut kasih.
selama kau cantik mengalir dari surga.
darah pun berbunga mawar dan melati.
bertudung senja pelangi merah.
kau yang indah dalam dunia.
begitulah kau yang selalu ku puja.
bagiku yang menaruh pendapat kata.
mata yang kubayar dengan rasa.
harumkan namamu bergelut kasih.
selama kau cantik mengalir dari surga.
darah pun berbunga mawar dan melati.
bertudung senja pelangi merah.
kau yang indah dalam dunia.
begitulah kau yang selalu ku puja.
pengkhianatan oleh tangan tak berwajah
di atas garis kedaulatan.
engkau bersumpah demi bangsa merah dan putih.
di tanah tercinta.
Indonesiaku.
yaitu gerak kesejahteraan.
namun waktu menggoda janji.
engkau pun garang di kasta tertinggi.
ini pengkhianatan!!
engkau ludahi nama bangsa.
merubah bangsa menjadi bidak.
sampai debu menafkahi wajah.
engkau tak peduli.
aturan hanyalah lemparan dadu bagimu.
perjudian di atas rekayasa.
ah busuk tuan-tuan kaisar!!
pengkhianatan!!
semoga engkau mampus terkoyak sepi.
biarlah
sudah juga dibuangkan.
panas-panas api gejolak tugu.
amarah dari sekujur hati.
yang tak bosan melempar dadu.
sepi sendiri dibenci diri.
duduk manis berhiaskan angan-angan.
kehidupanku yang pudar.
hilang menjalar hari-hari.
didekap pun diam saja.
aku tetap terbiasa.
biarlah!!
panas-panas api gejolak tugu.
amarah dari sekujur hati.
yang tak bosan melempar dadu.
sepi sendiri dibenci diri.
duduk manis berhiaskan angan-angan.
kehidupanku yang pudar.
hilang menjalar hari-hari.
didekap pun diam saja.
aku tetap terbiasa.
biarlah!!
kami hilang suara
tampang berkelut kelam.
kami pemuda terhapus pendapat.
terhalang oleh batas-batas Si Tua Keladi.
gerak kami tak merangkak.
kian hari kian pasrah.
suara terbuang habis.
nasib kami tak bertulang.
dan hilang semua rasa.
kami pemuda terhapus pendapat.
terhalang oleh batas-batas Si Tua Keladi.
gerak kami tak merangkak.
kian hari kian pasrah.
suara terbuang habis.
nasib kami tak bertulang.
dan hilang semua rasa.
aku di kotaku
di pinggiran kota hujan.
kumbang bernyanyi, awan menari-nari.
rembulan duduk di pangkuan langit.
para bintang memancar dan berkilau.
sungguh aku menikmati.
aku menyisakan satu kaki.
berjalan pun aku tertatih.
walau sudah alam penuh bahasa.
namun ku tetap terjaga dalam sepi.
sepi terasa memikat mati.
sunyi terderu menikam hati.
rantai di mana aku menoleh jalan dan dunia.
sebagai sepi menjadi pinggiran kota hujan.
kumbang bernyanyi, awan menari-nari.
rembulan duduk di pangkuan langit.
para bintang memancar dan berkilau.
sungguh aku menikmati.
aku menyisakan satu kaki.
berjalan pun aku tertatih.
walau sudah alam penuh bahasa.
namun ku tetap terjaga dalam sepi.
sepi terasa memikat mati.
sunyi terderu menikam hati.
rantai di mana aku menoleh jalan dan dunia.
sebagai sepi menjadi pinggiran kota hujan.
ini rupa siapa?
ini rupa siapa?
kala cermin memantulkanku.
mata sayup senyap.
kulit pucat memancar.
tubuh bungkuk dan layu.
sampai kaki merayap rapuh.
ini rupa siapa?
apakah bayang-bayang petang tuaku?
gugur, hancur.
ah, aku tak kenal!!
kala cermin memantulkanku.
mata sayup senyap.
kulit pucat memancar.
tubuh bungkuk dan layu.
sampai kaki merayap rapuh.
ini rupa siapa?
apakah bayang-bayang petang tuaku?
gugur, hancur.
ah, aku tak kenal!!
rasa yang ku tinggalkan
sehelai kata.
di pulau itu ku tinggalkan.
tertulis di atas pasir bisu.
beserta jejak-jejakku.
samudera biru dengan deru ombaknya.
menemani jiwaku yang mati.
kala ku berlayar di lautan biru.
meninggalkan pulau itu.
jejak-jejakku masih ada.
yang ku tinggalkan untuk kau kenang.
saat kau nanti menjadi malaikat.
yang merinduku di untaian kata-kata.
di pulau itu ku tinggalkan.
tertulis di atas pasir bisu.
beserta jejak-jejakku.
samudera biru dengan deru ombaknya.
menemani jiwaku yang mati.
kala ku berlayar di lautan biru.
meninggalkan pulau itu.
jejak-jejakku masih ada.
yang ku tinggalkan untuk kau kenang.
saat kau nanti menjadi malaikat.
yang merinduku di untaian kata-kata.
suara hati
sepi.
kelabuku di malamku.
tiada tegar ku raih.
mati.
berulang waktu ku buka kedua mata.
masih hening.
aku hampir habis dayaku.
dan inilah sunyi.
kelabuku di malamku.
tiada tegar ku raih.
mati.
berulang waktu ku buka kedua mata.
masih hening.
aku hampir habis dayaku.
dan inilah sunyi.
pagi bercerita
matahari tiba.
berlayar mengarungi langit.
dengan terangnya dibawa oleh angin.
hidupkan pagi yang sepi.
dan rasakan semua bintang.
yang rela pergi demi matahari.
ia berkumpul dan percaya.
bahwa matahari lanjutkan sinarnya.
matahari sudah tiba.
kejarlah cahayanya.
raihlah auranya.
hingga kedua tangan kembali terbuka.
berlayar mengarungi langit.
dengan terangnya dibawa oleh angin.
hidupkan pagi yang sepi.
dan rasakan semua bintang.
yang rela pergi demi matahari.
ia berkumpul dan percaya.
bahwa matahari lanjutkan sinarnya.
matahari sudah tiba.
kejarlah cahayanya.
raihlah auranya.
hingga kedua tangan kembali terbuka.
bahasa hati
di dalam sebuah kisah.
ku terpeluk bahasa.
dan mengalun indah kata-kata cinta.
juga tak akan bisa terlupa.
di setiap pandangnya, curahkan jiwa.
dengan segenap cintanya, hadirkan tawa.
bila sekali terlewat bahasa.
maka tumbuh aura air mata.
dan bila sepenggal rindu ini milik cintamu.
seberapa besar aku berdiri tuk berjumpa?
dan bila serangkaian cinta ini milik duniamu.
harus berapa lama aku menunggu?
ku terpeluk bahasa.
dan mengalun indah kata-kata cinta.
juga tak akan bisa terlupa.
di setiap pandangnya, curahkan jiwa.
dengan segenap cintanya, hadirkan tawa.
bila sekali terlewat bahasa.
maka tumbuh aura air mata.
dan bila sepenggal rindu ini milik cintamu.
seberapa besar aku berdiri tuk berjumpa?
dan bila serangkaian cinta ini milik duniamu.
harus berapa lama aku menunggu?
aku yang berpikir
pilar langitku telah kelabu.
suara lenyap, hilang kata-kata.
pundak pintu merapuh gaduh.
di kediamanku telah sunyi.
mata telanjang belum padam.
masih terjaga dalam ingatan.
mengganggu di setiap langkah-langkah.
kala pungguk nasib belum bertulang.
suara lenyap, hilang kata-kata.
pundak pintu merapuh gaduh.
di kediamanku telah sunyi.
mata telanjang belum padam.
masih terjaga dalam ingatan.
mengganggu di setiap langkah-langkah.
kala pungguk nasib belum bertulang.
Tuhanku
Tuhan.
aku bersinggah di alamMu.
menyaksikan segala bahasa yang megah.
juga yang mengobati jiwaku yang resah.
Tuhan.
cahayaMu terpancar dan memikat.
di balik teguhnya hati pada keyakinanku.
akan arti hadirMu seluas kuasaMu.
Tuhan.
pada garis vertikal tanganku mengadah.
juga kumpulan kata-kata menjadi doa.
karena hanya kepadaMu aku berserah dan mengabdi.
hingga maut memisahkan seorang aku dan duniaMu.
aku bersinggah di alamMu.
menyaksikan segala bahasa yang megah.
juga yang mengobati jiwaku yang resah.
Tuhan.
cahayaMu terpancar dan memikat.
di balik teguhnya hati pada keyakinanku.
akan arti hadirMu seluas kuasaMu.
Tuhan.
pada garis vertikal tanganku mengadah.
juga kumpulan kata-kata menjadi doa.
karena hanya kepadaMu aku berserah dan mengabdi.
hingga maut memisahkan seorang aku dan duniaMu.
siapa aku?
pematik api.
bakarkan sebatang rokokku.
juga asapnya berkawan dengan sepiku.
akan resah benakku dan jalanku.
kata-kata di sela bibirku.
mengucap bahasa batin yang memancar.
seolah derunya amarah tak mau usai.
menjebakku dalam ikatan tanda tanya.
siapa aku?
apa gerangan langkahku?
di mana peraduanku?
dan ke mana tujuanku?
bakarkan sebatang rokokku.
juga asapnya berkawan dengan sepiku.
akan resah benakku dan jalanku.
kata-kata di sela bibirku.
mengucap bahasa batin yang memancar.
seolah derunya amarah tak mau usai.
menjebakku dalam ikatan tanda tanya.
siapa aku?
apa gerangan langkahku?
di mana peraduanku?
dan ke mana tujuanku?
bimbang
selembar dinding yang membisu.
pucatkan kau bayang-bayangku.
sejajar pula angan bertubuh palsu.
sedihkan serangkaian kata-kata tanganku.
apa yang sudah ku buat?
menodai garis tanganku yang melingkar.
tersungkur dalam bahasa hitam.
dari iblis yang menuangkan syair.
benciku.
jeritanku.
resahku.
atas segala bimbang yang ku hadapi.
pucatkan kau bayang-bayangku.
sejajar pula angan bertubuh palsu.
sedihkan serangkaian kata-kata tanganku.
apa yang sudah ku buat?
menodai garis tanganku yang melingkar.
tersungkur dalam bahasa hitam.
dari iblis yang menuangkan syair.
benciku.
jeritanku.
resahku.
atas segala bimbang yang ku hadapi.
cinta
dari gumpalan darah yang mengalir ke dalam hati.
menjadi telaga suatu rasa yang tak ingin dinodai.
sekecilpun tiada mau dan tak ingin.
mendengar kata khianat tegak berdiri.
aku alunan nada cinta bersemi.
berjalan dalam gemerlap senja.
kala sebuah tetes air mata dibayar cinta.
mengguncangkan tubuh yang indah karenanya.
itulah cinta!
bagi yang bergerak.
bagi yang bernafas.
hingga maut memisahkan jiwa dan raga.
menjadi telaga suatu rasa yang tak ingin dinodai.
sekecilpun tiada mau dan tak ingin.
mendengar kata khianat tegak berdiri.
aku alunan nada cinta bersemi.
berjalan dalam gemerlap senja.
kala sebuah tetes air mata dibayar cinta.
mengguncangkan tubuh yang indah karenanya.
itulah cinta!
bagi yang bergerak.
bagi yang bernafas.
hingga maut memisahkan jiwa dan raga.
Langganan:
Postingan (Atom)