aku berlari dari serangkaian wajah merayu.
separuh aku hilang sejenak tawa.
terdiam, menanyai waktu tak berhentak.
dan ke manakah bumi akan berpijak?
"gadis, apa maksud suaramu?"
mulai getir jiwaku terguncang hebat.
apapun itu asal kau coba katakan.
mengapa tak kau serahkan aku pada hamparan hatimu?
dekap aku.
ciumlah aku.
aku suka padamu yang dewasa kepada cinta.
juga menyikapi unggun api yang menyala.
"gadis, apa maksud suaramu?"
cobalah kau ciptakan kata-kata.
bila nanti kau tinggalkan saat aku memandang.
kematian dan kematian yang menyambar.
"gadis, kini kau yang bertahta."
coba bahagiakan aku walau hatimu enggan.
Kamis, 30 Agustus 2012
penyiksaan atas pemberian
bukan teras rumah yang ku pijak.
tapi butiran fatamorgana yang ku tepi.
di antara serangkaian tanya yang menggema.
inilah penyiksaan atas pemberian.
merpati putih tersenyum sinis.
elang jauh mengepak menerpa sang bukit.
sebakti rasa jauh tersayat problema.
inilah penyiksaan atas pemberian.
ingin binasa aku alam semesta.
bosan aku dengan patih-patih rasa.
enyahlah kau fatamorgana!
inilah penyiksaan atas pemberian.
tapi butiran fatamorgana yang ku tepi.
di antara serangkaian tanya yang menggema.
inilah penyiksaan atas pemberian.
merpati putih tersenyum sinis.
elang jauh mengepak menerpa sang bukit.
sebakti rasa jauh tersayat problema.
inilah penyiksaan atas pemberian.
ingin binasa aku alam semesta.
bosan aku dengan patih-patih rasa.
enyahlah kau fatamorgana!
inilah penyiksaan atas pemberian.
waktu bicara
mulai waktu bicara.
bibir merah memainkan bahasa.
namun nasib tak kunjung jumawa.
tersiksa dalam nikmat yang tak mampu digenggam.
Tuhan beri, aku terima.
selongsong peluru telah terpahat.
juga telah pula menembus keras nan tajam.
ini sudah sesakkan jiwa berwajah pilu.
bibir merah diam tiada tulang.
serta tiada kata-kata yang menari riang.
seribu topeng menopang malu.
inilah waktu bicara dan dipelajari.
bibir merah memainkan bahasa.
namun nasib tak kunjung jumawa.
tersiksa dalam nikmat yang tak mampu digenggam.
Tuhan beri, aku terima.
selongsong peluru telah terpahat.
juga telah pula menembus keras nan tajam.
ini sudah sesakkan jiwa berwajah pilu.
bibir merah diam tiada tulang.
serta tiada kata-kata yang menari riang.
seribu topeng menopang malu.
inilah waktu bicara dan dipelajari.
Kamis, 23 Agustus 2012
sepi yang ku bawa
aku tarik kegelapan menari indah.
pada hari yang tak bermentari.
tiada celah cahaya mengusap embun pagi.
hanya sepi sang selendang kematian.
di luar yang menusuk, mengamuk seluruh.
dekap kalbu tiada hela setia.
terus sendiri bukan berdua.
inilah sepi yang menari dan ku bawa.
berlari saja!
tinggalkan aku mawar dan melati.
darah yang mengalir hitam juga megah.
inilah sepi yang menari dan ku bawa.
pada hari yang tak bermentari.
tiada celah cahaya mengusap embun pagi.
hanya sepi sang selendang kematian.
di luar yang menusuk, mengamuk seluruh.
dekap kalbu tiada hela setia.
terus sendiri bukan berdua.
inilah sepi yang menari dan ku bawa.
berlari saja!
tinggalkan aku mawar dan melati.
darah yang mengalir hitam juga megah.
inilah sepi yang menari dan ku bawa.
pantai
aku memandang bulan yang menyambut.
desir-desir ombak mulai menyapu tubuh pesisir.
kumpulan pasir membentuk jejak-jejak liar.
aku dan binatang-binatang berlari riang.
ombak bernyanyi menghantam karang terbuka.
kemudian bintang-bintang merayu langit hitam.
sejenak, hening angin melambai.
dan terus indah pemandangan dari mata telanjang.
ini pantai!
setia pada samudera dan sang ratu laut.
semua menampak senyum dan berlari-lari.
sungguh, betapa indahnya pesona laut perlente.
desir-desir ombak mulai menyapu tubuh pesisir.
kumpulan pasir membentuk jejak-jejak liar.
aku dan binatang-binatang berlari riang.
ombak bernyanyi menghantam karang terbuka.
kemudian bintang-bintang merayu langit hitam.
sejenak, hening angin melambai.
dan terus indah pemandangan dari mata telanjang.
ini pantai!
setia pada samudera dan sang ratu laut.
semua menampak senyum dan berlari-lari.
sungguh, betapa indahnya pesona laut perlente.
rindu ini
bulan tiba kuning langsat.
menaburi cahayanya, sekujur tubuh langit.
sang pasir melayani derunya ombak menyala.
dan aku di sini merindu.
pantai dengan ombak menyala dan merebah.
mengalun indah aroma samudera biru terpancar.
ribuan meter aku dari jarak aku berdiri.
aku merindu pada kau, gadis!
aku dan binatang-binatang berotak lemah.
saling mengumpat tuk hadir seteguk gelak tawa.
namun satu diri aku terpaku.
merasakan rindu ini tumbuh mekar mewangi.
gadis, dengarlah ombak mengalun namamu.
gadis, lihatlah sang pasir menampakkan jejakmu.
gadis, pandanglah bulan memancar senyummu.
sungguh semua ini, temani aku merindu.
menaburi cahayanya, sekujur tubuh langit.
sang pasir melayani derunya ombak menyala.
dan aku di sini merindu.
pantai dengan ombak menyala dan merebah.
mengalun indah aroma samudera biru terpancar.
ribuan meter aku dari jarak aku berdiri.
aku merindu pada kau, gadis!
aku dan binatang-binatang berotak lemah.
saling mengumpat tuk hadir seteguk gelak tawa.
namun satu diri aku terpaku.
merasakan rindu ini tumbuh mekar mewangi.
gadis, dengarlah ombak mengalun namamu.
gadis, lihatlah sang pasir menampakkan jejakmu.
gadis, pandanglah bulan memancar senyummu.
sungguh semua ini, temani aku merindu.
Jumat, 17 Agustus 2012
murka
aku tidak berhenti.
dengan diri ini yang berlari.
canda dan tawa ku rampas dini.
mengerang, walau waktu habis terang seluruh!
aku semakin tak perduli.
bukit ku remas-remas.
pelangi ku tampar hebat.
sampai telaga ku warnai darah.
aku tetap tak perduli.
persetan dengan mereka bajingan dan berkata-kata!
biar semua porak porandai!
dari langit bercinta dua dunia.
bongkar terus sampai mampus.
biar semua porak porandai!
dengan diri ini yang berlari.
canda dan tawa ku rampas dini.
mengerang, walau waktu habis terang seluruh!
aku semakin tak perduli.
bukit ku remas-remas.
pelangi ku tampar hebat.
sampai telaga ku warnai darah.
aku tetap tak perduli.
persetan dengan mereka bajingan dan berkata-kata!
biar semua porak porandai!
dari langit bercinta dua dunia.
bongkar terus sampai mampus.
biar semua porak porandai!
Selasa, 14 Agustus 2012
mencintaimu
pagi sengit terpampang dari kaca jendela.
terbuka jalan!
menatap kunang-kunang telah mati.
kini kupu-kupu tiba bersayap.
jangan kau dekat wahai matahari!
biar ku sendiri.
jalan-jalan sambil bawa oleh-oleh.
cindramata sang ratu malam bercahaya, ia rembulan.
biar ku tangis dulu.
membuka jalan lalu menyeberang.
wajah yang terbentuk di pangkuan rembulan.
aku dekati, lalu ku pergi.
aku akan terbang jauh.
sampai ku tak tertahan lagi.
melupakan segala arti dan penglihatan.
mencintaimu.
terbuka jalan!
menatap kunang-kunang telah mati.
kini kupu-kupu tiba bersayap.
jangan kau dekat wahai matahari!
biar ku sendiri.
jalan-jalan sambil bawa oleh-oleh.
cindramata sang ratu malam bercahaya, ia rembulan.
biar ku tangis dulu.
membuka jalan lalu menyeberang.
wajah yang terbentuk di pangkuan rembulan.
aku dekati, lalu ku pergi.
aku akan terbang jauh.
sampai ku tak tertahan lagi.
melupakan segala arti dan penglihatan.
mencintaimu.
Minggu, 12 Agustus 2012
hanya ingin dikenang
denting pecahkan malam yang menopang dagu.
termenung suatu diriku yang membisu.
aku mencari emas di tumpukan sampah.
mencelahi baunya yang tak hilang.
hidup.
mimpi ditepis sang waktu.
sebagai muda yang menjadi-jadi.
berpikir sebentar-sebentar.
kemudian merintih.
aku tak sampai.
daun-daun jatuh.
gugur jiwa yang menjadi tugu.
aku ingin dikenang, harapku.
lalu jasadku yang kan ditangiskan.
merayap di pucat hari-hari berduka.
aku hanya ingin dikenang!
termenung suatu diriku yang membisu.
aku mencari emas di tumpukan sampah.
mencelahi baunya yang tak hilang.
hidup.
mimpi ditepis sang waktu.
sebagai muda yang menjadi-jadi.
berpikir sebentar-sebentar.
kemudian merintih.
aku tak sampai.
daun-daun jatuh.
gugur jiwa yang menjadi tugu.
aku ingin dikenang, harapku.
lalu jasadku yang kan ditangiskan.
merayap di pucat hari-hari berduka.
aku hanya ingin dikenang!
siapa?
daun pintu halus membungkuk.
dinding menjajar dalam beku.
hening sang waktu berdiri tegak.
sunyi!
siapa?
hadir teurai sebentar-sebentar.
kerudung anggun berkilau mutiara.
kemudian lenyap, binasa!
siapa?
aku mulai resah menusuk.
bingung dan meremuk.
bertanya-tanya berjuta kali.
siapa?
itu siapa?
ya kamu siapa?
kemudian lenyap.
sosok samar terbalut malaikat putih.
menggenang dalam pikiran.
kemudian aku terseret dalam fatamorgana.
indahnya!
dinding menjajar dalam beku.
hening sang waktu berdiri tegak.
sunyi!
siapa?
hadir teurai sebentar-sebentar.
kerudung anggun berkilau mutiara.
kemudian lenyap, binasa!
siapa?
aku mulai resah menusuk.
bingung dan meremuk.
bertanya-tanya berjuta kali.
siapa?
itu siapa?
ya kamu siapa?
kemudian lenyap.
sosok samar terbalut malaikat putih.
menggenang dalam pikiran.
kemudian aku terseret dalam fatamorgana.
indahnya!
kepada kedua mata itu
malam ku seret dalam benak yang berpikir.
tentang desah kata-kata kasih yang terjalin.
mencoba berlari, menyala dalam kata-kata.
berbahasa dan bernafas.
walau harus mengerang.
atau berdarah kemudian terluka.
serta mati lalu tiada.
semua ini terus mencari arti.
"penerimaan, aku ingin kau coba itu nanti!!"
separuh pagi ku seret dalam diri yang bermimpi.
mengetuk dan terbuka.
mengeluarkan gejolak, serta menggebu-gebu.
seluruhnya tak akan berhenti.
dan biar nanti waktu yang memisahkan.
tentang desah kata-kata kasih yang terjalin.
mencoba berlari, menyala dalam kata-kata.
berbahasa dan bernafas.
walau harus mengerang.
atau berdarah kemudian terluka.
serta mati lalu tiada.
semua ini terus mencari arti.
"penerimaan, aku ingin kau coba itu nanti!!"
separuh pagi ku seret dalam diri yang bermimpi.
mengetuk dan terbuka.
mengeluarkan gejolak, serta menggebu-gebu.
seluruhnya tak akan berhenti.
dan biar nanti waktu yang memisahkan.
aku dan kaum
siang menyilang langit, sebaris kuning meninggi.
dahaga kian agung, mulai kritis keringat meluncur.
tak merasa dosa lompati apa itu keimanan.
terpenting, aku dan mereka melepas dan semaunya.
aku dan kaum.
tegak seolah tak kenal manusia.
yang menyeimbangkan keimanan dan ketaqwaan.
seolah kami diam, acuh meludah!
dahaga kian agung, mulai kritis keringat meluncur.
tak merasa dosa lompati apa itu keimanan.
terpenting, aku dan mereka melepas dan semaunya.
aku dan kaum.
tegak seolah tak kenal manusia.
yang menyeimbangkan keimanan dan ketaqwaan.
seolah kami diam, acuh meludah!
Sabtu, 11 Agustus 2012
liar
aku binatang liar bersayap sang iblis.
aungan dan jeritan berhias dan melekat.
tawa dan canda menuju kekosongan.
aku berlari, hanya dengan diri ini.
sanjungan tak pernah aku letakkan.
walau sekedar utuh mereka lihat.
tak berbunyi, aku diam terus sepi.
bisu, itu mauku!
aku ini bebas dari segala.
merdeka, dengan pilihan yang ku bawa.
aungan dan jeritan berhias dan melekat.
tawa dan canda menuju kekosongan.
aku berlari, hanya dengan diri ini.
sanjungan tak pernah aku letakkan.
walau sekedar utuh mereka lihat.
tak berbunyi, aku diam terus sepi.
bisu, itu mauku!
aku ini bebas dari segala.
merdeka, dengan pilihan yang ku bawa.
Rabu, 08 Agustus 2012
"aku" yang ku pinjam darimu.
bagiku yang menyala di telanjang mata.
aku nikmati setiap detik, ku teguk dan ku rasa.
tak sekedar cinta itu hanya tertuang dalam kata.
juga dari bapak syairku, Chairil Anwar.
cinta.
sampai selatan ujung desirnya kan terdengar.
"aku" yang ku pinjam darimu.
bentuk aku akan menulis banyak.
tentang cinta, buku ini aku pinjam.
rasanya semakin bau.
bau bibirmu, bau rambutmu juga tubuhmu.
imajinasi kian tak kenal batas-batas.
aku resah bila gambarkan wajahmu.
mungkin.
aku tak bisa hilangkan erang dan jeritan.
serta pujian pada sosokmu.
"Jess, kau dengar?"
"atau kau baca?"
aku nikmati setiap detik, ku teguk dan ku rasa.
tak sekedar cinta itu hanya tertuang dalam kata.
juga dari bapak syairku, Chairil Anwar.
cinta.
sampai selatan ujung desirnya kan terdengar.
"aku" yang ku pinjam darimu.
bentuk aku akan menulis banyak.
tentang cinta, buku ini aku pinjam.
rasanya semakin bau.
bau bibirmu, bau rambutmu juga tubuhmu.
imajinasi kian tak kenal batas-batas.
aku resah bila gambarkan wajahmu.
mungkin.
aku tak bisa hilangkan erang dan jeritan.
serta pujian pada sosokmu.
"Jess, kau dengar?"
"atau kau baca?"
pantang menyerah
panas mencekik tubuh.
alunan jeritan cahaya matahari menyuara.
pandai pula memainkan keringat meluncur.
walau begitu, aku belum tunduk!
aku celahi hidup yang merintih.
akan ku bawa perih yang menusuk.
walau banyak mata yang tak suka.
aku terus teguh dan tak peduli.
seolah malam berkata yang meruncing.
"muliaNya, akan kau bawa mati!"
alunan jeritan cahaya matahari menyuara.
pandai pula memainkan keringat meluncur.
walau begitu, aku belum tunduk!
aku celahi hidup yang merintih.
akan ku bawa perih yang menusuk.
walau banyak mata yang tak suka.
aku terus teguh dan tak peduli.
seolah malam berkata yang meruncing.
"muliaNya, akan kau bawa mati!"
Tuhan, pemberianMu yang hebat
Tuhan.
aku katakan saja.
bila mau Kau dengar.
butiran rasa yang ku rasa.
apa maksud Kau kirim ini?
aku buta, tamparan hebat senyumnya!
Tuhan.
aku katakan saja.
saat di mana nanti aku meminta.
tuk hilangkan sejenak atau semata.
pemberianMu ini yang luar biasa.
walau sebenarnya, "jangan!"
biarkan ini mengembang sejenak.
dan kemudian menghempasku.
ah..
aku suka dia!
aku katakan saja.
bila mau Kau dengar.
butiran rasa yang ku rasa.
apa maksud Kau kirim ini?
aku buta, tamparan hebat senyumnya!
Tuhan.
aku katakan saja.
saat di mana nanti aku meminta.
tuk hilangkan sejenak atau semata.
pemberianMu ini yang luar biasa.
walau sebenarnya, "jangan!"
biarkan ini mengembang sejenak.
dan kemudian menghempasku.
ah..
aku suka dia!
peduli setan denganmu
aku sudah tak peduli.
mau langit terbelah, atau kau mengadah.
apalah namanya!
tak sudi aku memandang.
kau hitam, kurus tegak bertulang-tulang.
jidat hitam, semua serba hitam.
mulut berbusa, busuk di dalam.
seolah kau gusar sendiri sedap.
aku sudah tak peduli.
ucapkan saja kau di tanah kosong.
langit tak akan mendengarmu!
mau langit terbelah, atau kau mengadah.
apalah namanya!
tak sudi aku memandang.
kau hitam, kurus tegak bertulang-tulang.
jidat hitam, semua serba hitam.
mulut berbusa, busuk di dalam.
seolah kau gusar sendiri sedap.
aku sudah tak peduli.
ucapkan saja kau di tanah kosong.
langit tak akan mendengarmu!
Selasa, 07 Agustus 2012
untukmu lagi, gadis!
selasa mengepal merdu sejati.
gemanya menjalar sampai rabu buta.
di ribuan kilometer aku memupuk rindu.
kepada dia, sang kumpulan cahaya benderang.
akhirnya, aku bisa memandang dan menyimak.
getar senyum pada belaian manis bibirnya.
setiap detik terang cahaya matanya berkedip.
menenangkan aku di hembusan dunia yang kalut.
ah dia...!
walau aku sudah berbincang dengan kambing jantan dan onta palestina.
aku tetap terjaga melingkar dalam, di balik damaimu seluruh.
kumpulan cahayamu, jess!
biar ku raih, biar ku nikmati, biar ku jilat sampai habis.
hingga hati bertirai kata-kata.
"betapa indah kau adanya!"
gemanya menjalar sampai rabu buta.
di ribuan kilometer aku memupuk rindu.
kepada dia, sang kumpulan cahaya benderang.
akhirnya, aku bisa memandang dan menyimak.
getar senyum pada belaian manis bibirnya.
setiap detik terang cahaya matanya berkedip.
menenangkan aku di hembusan dunia yang kalut.
ah dia...!
walau aku sudah berbincang dengan kambing jantan dan onta palestina.
aku tetap terjaga melingkar dalam, di balik damaimu seluruh.
kumpulan cahayamu, jess!
biar ku raih, biar ku nikmati, biar ku jilat sampai habis.
hingga hati bertirai kata-kata.
"betapa indah kau adanya!"
Kamis, 02 Agustus 2012
kau yang ku ingat
malam teduh.
aku coba belai angin manja.
meniupkan segala resah menepi.
tanda dalam hangatnya aku mengingat.
kau di sana.
jauh tak ku lihat matamu.
bayang-bayangmu apa lagi.
aku tarik rindu padamu.
semua ingatan.
aliran nafasku menggema.
kau lagi yang muncul.
ah kau ini!
buatku gelisah, ini rindu membakar jiwaku.
aku coba belai angin manja.
meniupkan segala resah menepi.
tanda dalam hangatnya aku mengingat.
kau di sana.
jauh tak ku lihat matamu.
bayang-bayangmu apa lagi.
aku tarik rindu padamu.
semua ingatan.
aliran nafasku menggema.
kau lagi yang muncul.
ah kau ini!
buatku gelisah, ini rindu membakar jiwaku.
Rabu, 01 Agustus 2012
untukmu gadis
aku tersesat di bahasamu.
apa kau paham dengan itu, gadis?
kau memandang, kedua telanjang matamu terpaku.
ke arah langit yang menaruh senja peradaban.
sore itu punya lingkaran senyummu yang megah.
dan terseret indah alam ke sana.
rasa ini untukmu gadis.
apa kau paham dengan ini, gadis?
di pagi hidup suaramu.
menggema di aliran darah merah.
menggumpal menjadi indah kata-kata.
bagiku yang tertuang oleh kuasa cintamu.
apa kau tahu itu, gadis?
apa kau paham dengan itu, gadis?
kau memandang, kedua telanjang matamu terpaku.
ke arah langit yang menaruh senja peradaban.
sore itu punya lingkaran senyummu yang megah.
dan terseret indah alam ke sana.
rasa ini untukmu gadis.
apa kau paham dengan ini, gadis?
di pagi hidup suaramu.
menggema di aliran darah merah.
menggumpal menjadi indah kata-kata.
bagiku yang tertuang oleh kuasa cintamu.
apa kau tahu itu, gadis?
usia
aku kini memeluk lagi.
usia menjulang naik tinggi.
cermin, "kau terlihat berjiwa pemuda."
berdoa pula aku di hamparan muliaMu yang utuh.
belahan waktuku mengusik harapan pada tanya.
ke mana kunci terangku menembus jalan?
aku tak perduli.
karena aku kini sedang menikmati.
usia menjulang naik tinggi.
cermin, "kau terlihat berjiwa pemuda."
berdoa pula aku di hamparan muliaMu yang utuh.
belahan waktuku mengusik harapan pada tanya.
ke mana kunci terangku menembus jalan?
aku tak perduli.
karena aku kini sedang menikmati.
Langganan:
Postingan (Atom)