mulai waktu bicara.
bibir merah memainkan bahasa.
namun nasib tak kunjung jumawa.
tersiksa dalam nikmat yang tak mampu digenggam.
Tuhan beri, aku terima.
selongsong peluru telah terpahat.
juga telah pula menembus keras nan tajam.
ini sudah sesakkan jiwa berwajah pilu.
bibir merah diam tiada tulang.
serta tiada kata-kata yang menari riang.
seribu topeng menopang malu.
inilah waktu bicara dan dipelajari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar