siang di bogor timur.
aku kembali percayakan waktu berjalan.
di bawah pohon rindang hati bertirai bahasa.
semoga riwayat yang ku bawa menemukan singgahnya.
aku tak peduli mereka.
sarjana, diploma atau lebih dari kejurusan yang mereka bawa.
aku tetap taruh riwayat yang sepi dengan kata-kata.
berdoa, walau nasib tak pernah ku tahu.
mulai bicara, mata saling hantam pandangan.
kepala hitam angkat bicara tentang visi dan tujuan.
tak peduli aku yang jawab seenak jidat.
kepala hitam tetap tegak bagai prajurit.
semoga aku berjumpa dengan persetujuan.
atau pengangkatan sebagai bidak ataupun pion.
tak apalah bagiku, itu tak penting.
karena aku hanya ingin menambal kehidupan yang semakin rapuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar